« Tambah Enam Sukhoi | Main | KEMBANGKAN CABE VARIETAS TURGO DAN MANDALA ; DIY Jadi Pusat Benih Hortikultura »
Penampilan Dalang Thengul Memukau
By admin | August 13, 2008 | 0 Kali di baca
RADAR JOGJA- Dari Pergelaran Aneka Wayang Dinas Kebudayaan Provinsi DI
Pagelaran wayang yang digelar Dinas Kebudayaan (Dinbud), Provinsi DIJ, sejak Jumat, (8/8), lalu, tak hanya menarik perhatian masyarakat Jogja. Wisatawan asing juga ikut menyaksikan.
AHMAD RIYADI, Jogja
Prof Dr Ding Choo Ming tampak serius memerhatikan penampilan Ki Ponidi Guno Carito. Sesekali ia manggut-manggut merespons apa yang disajikan dalang dari Bojonegoro itu.
Usai pentas, pria asal Malaysia itu menyampaikan kekaguman dan penilaiannya. Menurutnya, wayang Thengul asal Bojonegoro, Jawa Timur ini merupakan karya seni yang sudah mencapai puncak tinggi.
Alasannya, karena wayang merupakan perpaduan antara suara, alat tradisional, dan cerita. ‘’Antara pencapaian dan nilai seni yang besar. Semuanya menyatu dalam pegelaran wayang ini, sehingga membuat pagelaran wayang itu memiliki nilai seni yang amat tinggi,” kata dosen Universitas Kebangsaan Malaysia ini.
Selain memiliki nilai seni yang tinggi, tambah Ding Choo Ming, suara sang dalang dan pesinden juga terdengar cantik, sehingga membuat penonton jadi terkesima.
Ding Choo Ming menambahkan keberadaan wayang di Jawa, dari waktu ke waktu terus tersingkir dari peradaban yang menepisnya. Oleh karena itu, sudah semestinya generasi bangsa ini terus melestarikan wayang yang juga bagian dari warisan budaya nenek moyang negeri ini.
Dalam kaitan itulah, apa yang dilakukan Dinbud DIJ ini pantas diapresiasi. Sebagaimana dikatakan oleh Kepala Bidang Pengembangan Kebudayaan Dinas Kebudayaan Provinsi DIJ, Nursatwika, pentas ini memang sebagai wujud kepedulian dan pelestarian warisan budaya.
‘’Kami menampilkan wayang-wayang yang ada untuk dipentaskan di sini (Pakualaman, red). Supaya masyarakat menjadi lebih paham dan mengerti atas keberadaan wayang-wayang yang ada di negeri ini. Dan ini juga sebagai komparasi terhadap wayang lain di kota ini,” kata Nursatwika.
Pergelaran wayang ini merupakan kali kedua yang digelar Dinbud DIJ, setelah yang pertama digelar di Monumen Serangan Umum, Juli 2006, lalu.
Lima puluh Wayang Thengul asal Bojonegoro itu ditata rapi berjajar di atas batang pohon pisang. Dimainkan oleh dalang Ki Ponidi Guno Carito, dengan lakon Dewi Retno Kumolo.
Lima belas orang menjadi niyaga memainkan alat-alat tradisional seperti gendang, bonang bang, bonang pedrus, gender, slenten, ketuk kenong, rebab, siter, gambag, dua buah gong, saron, dan peking. Alat tradisional itu mengeluarkan suara yang indah dan merdu.
Suasana pergelaran wayang semakin menarik, ketika tiga pesinden yang berada di samping kanan sang dalang, menyanyikan syair-syair cerita dengan suara yang merdu.
Staf teknis Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro Drs Suwito mengatakan makna dari wayang thengul adalah kalau kencang methungul (Kalau kencang muncul).
Cerita wayang Thengul ini dimulai, sewaktu Kadipaten Bojonegoro yang dipimpin oleh Adipati Sosrodiningrat, mengadakan pasewakan agung untuk membicarakan persiapan pernikahan. Kemudian datanglah Raden Sedoro, utusan dari dari Adipati Tuban, guna melamar putri Adipati Sosrodiningrat yang bernama Dewi Retno Kumolo, yang akan dinikahkan dengan Raden Wiratmoyo. Karena kedua adipati ini sudah menjalin hubungan kekerabatan sejak lama, maka lamaran itu pun diterima.
Beberapa saat kemudian datanglah Patih Njero Gonjang bersama Patih Njaba Wijang, utusan dari Kadipaten Lamongan untuk melamar Dewi Retno Kumolo untuk dipersunting oleh Hendro Katong Adipati Lamongan. Namun, lamarannya ditolak, sehingga terjadilah peperangan antara Kadipaten Bojonegoro dengan Kadipaten Lamongan. Karena kalah perang, utusan dari Lamongan kemudian pulang, melaporkan kejadian yang dialami.
Mendengar laporan dari kedua Patih tersebut, Hendro Katong marah dan bermaksud membuat kerusuhan pada saat pernikahan Dewi Retno Kumolo. Suasana Kadipaten Tuban setelah lamaran diterima, ternyata Raden Wiratmoyo telah menjalin asmara dengan Dewi Sri Huning, dan untuk menyelamatkan lamaran yang terlanjur diterima, maka Dewi Retno Kumolo dijodohkan dengan Raden Sadoro. Kemarahan Hendro Katong semakin tinggi, dengan gagah berani Raden Wiratmoyo dan Dewi Sri Huning turun tangan menghadapi kemaran Hendro Katong, akan tetapi keduanya gugur dalam medan peperangan.
Melihat saudarannya kalah, maka Raden Sadoro dan Dewi Retno Kumolo cancut tali wondo maka mereka berdua menantang ketangguhan Hendro Katong yang pada akhirnya Hendro Katong dapat dikalahkan, hingga tewas. ***
Related Posts:
Topics: News, Radar Jogja |















