Home | Bursa Kerja | Komputer | Griya | Iklan | Publish | Universitas | Hotel | Belanja

Disclaimer
Informasi ini kami sampaikan hanya untuk mempermudah warga masyarakat khususnya warga masyarakat Jogjakarta untuk mengakses Informasi Mengenai sebagian berita-berita yang berkaitan dengan Kota Jogjakarta tercinta. Sumber berita dari harian surat kabar terkemuka baik offline maupun online dengan ditambah kontributor kami yang lain. Sumber kami cantumkan dengan jelas logo yang merupakan trade mark atau merk dagang dari masing-masing harian terkemuka nasional. Terimakasih.

Kelangkaan Kian Meluas, Tembus Rp 150 Ribu Per Sak

GUNUNGKIDUL – Kelangkaan pupuk di Gunungkidul terus terjadi. Petani kian sulit memperoleh pupuk. Selain itu, harga pupuk semakin merangkak naik. Di tingkat pengecer, harga pupuk per sak mencapai Rp 120 ribu hingga Rp 150 ribu. Sejumlah petani, terutama di daerah pesisir selatan Gunungkidul, mengeluhkan kondisi ini. Para petani di Kecamatan Purwosari, Panggang, Saptosari, dan Paliyan menyatakan pupuk semakin sulit ditemui di kios atau pasar. “Pada saat awal hujan seperti ini kami sangat butuh pupuk. Karena sulit diperoleh, terpaksa kami menunda tanam sampai pupuk tersedia,” ungkap Suyoto, 66, petani yang tinggal di Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, kemarin. Beberapa petani dari Desa Giring dan Mulusan di Kecamatan Paliyan pun mengaku tidak bisa mendapatkan pupuk meski sudah mencari sejak beberapa hari lalu. Keluhan ini juga dirasakan sejumlah petani di Panggang. Menurut mereka, kesulitan memperoleh pupuk ini terutama menimpa petani yang belum terdaftar dalam kelompok tani (klomtan). Terlebi, pupuk yang banyak beredar di Gunungkidul adalah pupuk bersubsidi. Pupuk ini disalurkan oleh distributor PT Pusri. Oleh distributor, pupuk hanya diberikan kepada petani yang tergabung dalam klomtan. “Petani yang belum masuk kelompok tani tidak memperoleh pasokan pupuk,” ujar Wiwid, 32, salah seorang petani. Dari pengamatan koran ini, di sejumlah kios yang biasa menjual pupuk, sejak beberapa waktu terlihat tidak memiliki persediaan pupuk. “Kiriman dari pabrik kan sudah ditentukan jumlah dan waktunya sesuai pengajuan. Jadi, tidak mungkin minta tambah lagi,” papar Musyanto, pengecer pupuk di Pasar Wonosari. Ia menegaskan kalau pun masih ada pengecer yang memiliki pupuk, jumlahnya sangat terbatas. Selain itu, harganya dipastikan jauh di atas ketentuan harga yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 65 ribu per sak isi 50 kilogram. Ketua DPRD Gunungkidul Slamet mendesak sistem distribusi pupuk ditata ulang. Dia menduga salah satu penyebab kelangkaan pupuk sekarang ini lantaran ulah oknum spekulan yang ingin mencari keuntungan pribadi. “Tindakan itu dapat dihindari jika PT Pusri langsung memasok kepada pihak petani. Tidak usah lewat distributor karena hanya akan memicu kelangkaan,” ujar dia. Slamet meminta Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul segera menindak tegas para spekulan pupuk. Sebab, tindakan ini menyebabkan makin langkanya pupuk bersubsidi di kalangan petani, terutama pada saat memasuki musim tanam. “Adanya kelangkaan pupuk ini, produksi pangan tahun 2009 mungkin saja akan jatuh dan petani akan makin miskin,” jelasnya. (cw5)

Related posts:

  1. Pecahan Rp 2 Ribu Resmi Beredar Stok BI Jogjakarta Hanya Rp 2,5 Miliar JOGJA – Uang...
  2. RT Rp 500 Ribu, RW Rp 700 Ribu RADAR JOGJA- Pemkot Jogja menyalurkan dana hibah pengelolaan untuk RT...
  3. Tahun Ini dibuka Lowongan 325 Ribu CPNS HARIAn JOGJA- Lowongan untuk calon pegawai negeri sipil (CPNS) akan...
  4. SATU-SATUNYA DI INDONESIA; Gunungkidul Canangkan 14 Desa Mapan WONOSARI (KR) – Kabupaten Gunungkidul memberanikan diri melaksanakan program Desa...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


Leave a Reply

241 Kali di baca